Senin, 15 Februari 2010

Sekilas Info

Pura Penataran Agung Klungkung dari masa ke masa...

Dalam catatan sejarah tata negara dan kebudayaan di Bali, Kerajaan Klungkung merupakan kerajaan yang menduduki posisi tertinggi di antara kerajaan-kerajaan lain di Bali. Hal ini terkait dengan pertalian sejarah dengan Kerajaan Majapahit. Keberadaan Kerajaan Klungkung merupakan rangkaian dari sejarah berhasilnya Majapahit dalam upaya menyatukan wilayah kepulauan dalam gugus  Nusantara sebagaimana tertuang dalam Sumpah Palapa Patih Gajah Mada.
Majapahit berhasil menundukkan Raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten pada 1343, pada masa Bali kuna. Sejak saat itu Bali berada di bawah kekuasaan Majapahit. Setelah Sri Kresna Kepakisan ditunjuk menjadi Adipati di Bali pada 1352, maka mulailah trah Ksatria Dalem menduduki posisi penting di Bali yang berpusat di Samprangan Gianyar (Lingarsapura).
Dalam perkembangan selanjutnyan, di masa pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir (1380-1460), pusat kerajaan dipindahkan ke Gelgel (Swecapura). Ketika Bali mengalami zaman keemasan pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong bertahta di Gelgel (1460-1490), Kerajaan Majapahit justru mengalami keruntuhan pada 1478 Masehi sehingga kerajaan Gelgel disebut-sebut sebagai penerus kebesaran Majapahit di Bali.
Pura Penataran Agung Klungkung berlokasi di Jalan Gunung Semeru Banjar Sengguan, Desa Pakraman Semarapura, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, sekitar 38 kilometer arah timur kota Denpasar.
Pura Penataran Agung Klungkung diperkirakan dibangun pada abad 18. Status sebagai pura pangayengan Ida Batara Besakih. Diduga latar belakang dibangunnya pura ini karena saat itu terjadi perseteruan antara Kerajaan Klungkung dan Kerajaan Karangasem. Perseteruan itu menyebabkan warga Klungkung merasa khawatir tangkil untuk melakukan persembahyangan langsung ke Pura Besakih yang berlokasi di Karangasem. Dengan situasi seperti itu, diputuskan untuk membangun Pura Penataran Agung Klungkung yang berlokasi di sisi kaja kangin (timur laut) pusat kota kerajaan Semarapura, di Banjar Sengguan, Klungkung. Dalam perkembangannya dari masa ke masa di areal sekitar Pura Penataran Agung Klungkung dibangun Pura Taman Sari, yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional, dan Pura Dalem Segening di sisi utaranya.
Karena sejarah itu pula, sampai saat ini pura yang beberapa bangunan terakhir dipugar tahun 1999 itu tetap merupakan pura pangayengan Ida Batara Besakih selain ditetapkan pula sebagai Pura Puseh Bale Agung desa pakraman Semarapura.
Di Pura Penataran Agung  terdapat beberapa palinggih Meru Tumpang Tiga, Tumpang Lima, Tumpang Pitu, Tumpang Sia dan Tumpang Solas, Piasan, Bale Agung, Bale Pasamuan Alit, Bale Agung,  palinggih Ida Batara Gunung Batur, Gunung Sari dan Ida Batara Masceti serta palinggih lainnya.
-
Keterangan Foto:
Iring-iringan palelastian Pura Agung Besakih memasuki batas utara kota Klungkung serangkaian upacara Tawur Agung Candi Narmada di Segara Klotok, Maret 1993.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar